Semasih nyawa belum dicabut, kesempatan memperbaiki diri masih terbentang luas. “Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [An Nisaa: 110]. Sebelum seorang dokter memberikan resep obat, dokter akan
HADIRILAH
Tampilkan postingan dengan label Tips n Trik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tips n Trik. Tampilkan semua postingan
Oleh : Dwi Apriyanto
HRD-Marboth
Berbagai jalan kebaikan enggan ditempuh. Sholat malam malas dikerjakan. Puasa sunah tidak pernah dilakukan. Majlis ta’lim jarang dihadiri. Rukuk dan sujud di masjid sering ditinggalkan. Membaca Al Quran tidak diminati. Menolong orang enggan dilakukan. Infaq fi sabilillah terasa berat. Menyeru kebaikan dan mencegah kejahatan sungkan dilakukan. Perintah Allah tidak dikerjakan. Berbagai jalan kemaksiatan terus ditempuh. Hawa nafsu senantiasa diikuti. Lisan berkata kotor dan tidak berguna. Sifat malas selalu melekat. Kebohongan biasa dilakukan. Aurat yang tidak ditutup rapat. Mendholimi orang lain sering dilakukan. Larangan Allah terus dilanggar. Berbagai kebaikan enggan dilakukan dan berbagai kejahatan terus dilakukan. Bagaimana ini? Masihkah ada cara memperbaiki diri? Apa yang harus dilakukan?
Semasih nyawa belum dicabut, kesempatan memperbaiki diri masih terbentang luas. “Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [An Nisaa: 110]. Sebelum seorang dokter memberikan resep obat, dokter akan
Semasih nyawa belum dicabut, kesempatan memperbaiki diri masih terbentang luas. “Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [An Nisaa: 110]. Sebelum seorang dokter memberikan resep obat, dokter akan
Dari Abu Barzah Al-Aslami radhiyallahu ’anhu ia berkata: “Jika Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam hendak bangun dari suatu majelis beliau membaca: Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaa ilaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika “Maha Suci Engkau ya Allah dan segala puji bagiMu, aku bersaksi bahwa tiada ilah selain Engkau aku mohon ampun dan bertaubat kepadaMu". Seorang sahabat berkata: “Ya Rasulullah, engkau telah membaca bacaan yang dahulu tidak biasa engkau baca?” Beliau menjawab: “Itu sebagai penebus dosa yang terjadi dalam sebuah majelis.” (HR Abu Dawud 4217)
